Laman

Senin, 26 September 2016

SILSILAH CIKAL-BAKAL GUMAI SUATU BUMI RAMBANG

SILSILAH CIKAL-BAKAL GUMAI SUATU BUMI RAMBANG CATATAN : Kisah asal muasal Cikal Bakal penghuni Bumi Rambang sulit didapatkan bukti nyata (Fakta otentik), karena diturunkan cerita ini dari mulut kemulut yang disebut sebagai cerita beta witir dan merupakan lagenda rakyat tersendiri khususnya bagi keturunan dari : TUMANG NANTI GIRI atau Jurai Tuwe (Pangkal). 1. Menurut cerita turun temurun di daerah Bumi Rambang dahulunya adalah merupakan suatu tempat yang terkenal karena menjadi suatu tempat pemungkiman bagi mahluk di bumi yang akhirnya merupakan cikal bakal penduduk Bumi Rambang. Kemudian tersebutlah sebuah kota pada masa itu yang bernama Kute Tuban Luar dengan putra mahkotanya yang bernama RADEN ALIT dan isterinya bernama Puteri Kembang Melur. Kute Tuban Luar disebut juga Kota Silap Silapan karena tampak pagi silap (hilang) petang, biasa juga disebut Kute Karang Panjang terletak pada DAS Sungai Rambang yang sekarang dikenal dengan nama Sungai Cakil. Disana masih terdapat nama-nama dari pemukiman penduduk seperti; Pulau Burung, Teluk Raden. Letaknya sekarang disebelah hilir dari desa Sunur Kec. Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Setelah kute Tuban Luar atau Kute Karang Panjang lenyap istilah penduduk setempat silap, kemudian menjelma pula suatu tempat yang dikenal bernama Tuban Dalam kemudin berubah pula menjadi Kute Aji Mentare. Kute Aji Mentare bergeser kesebelah hulu dan tepatnya di daerah Sungai Penulangan (Pendulangan) anak dari Sungai Rambang, masuk wilayah desa Tanjung Bulan Kecamatan Rambang Kuang, Kab Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. 2. Kute Aji Mentare disusuk (ditapak) oleh 4 per sanak ; (jenis maklum) yaitu; 1) Persanak jenis mahluk biasa namanya Tuan Raje Itah; 2) Persanak jenis mahluk di hutan namanya Tuan Raje Itam; 3) Persanak jenis mahluk ke gunung namanya Tuan Raje Nyawe dan 4) Persanak jenis mahluk ke air namanyaTuan Ketitahan 3. Tuan Raje Itah menupakan cikal bakal dari penduduk suku rambang beliau beketurunan 3 orang puteri ; (1) Ratu Paseh di Bumi Rambang (2) Ratu Senuhun di jagat jawe (Banten) (3) Ratu Pahang ke Malaysia / brunai. 4. Ratu Paseh berputerakan Ratu Sekandar Alam (Ratu Kebuyutan) bermungkim di Bumi Rambang, suaminya Siak Ali Bandarudin di Kute Aji Mentare, kemudian beliau juga yang menjadi Raja di Kute Aji Mentare. Menurut cerita selanjutnya ada satu gunung Putih Muara Rambang, karena kejadian alam gunung itu runtuh dengan tiba-tiba , justeru itu ada persi cerita di Bumi Rambang keruntuhan gunung itu diperkirakan bertepatan dengan kelahiran nabi Muhammad SAW di Arab. Di ceritakan selanjutnya reruntuhan dari gunung itu menjadi beberapa patahan, dengan patahan bagian kakinya, merupakan tanah yang teronggok tinggi yang sekarang bernama desa perimbunan atau Desa Kasih Raja masuk wilayah kec. Lubuk Keliat Kab Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Patahan pangkalnya adalah tanah teronggok tinggi sekarang bernama desa Dalam Sirih masuk wilayah Kec. Tanjung Raja Kab Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Patahan bagian tengahnya tanah teronggok tinggi yang sekarang bernama desa Tebing Gerinting Kecamatan Indralaya Selatan Kab Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Patahan Puncaknya ialah tanah tinggi Puncak Sekuning Bukit Besar dan bukit seguntang didalam wilayah Kota Palembang. 5. Adapun Ratu Sekendar Alam di gelari pula Ratu Pebuyutan yang artinya nenek moyang dari cikal bakal dari penduduk atau Suku dari pada penghuni Bumi Rambang dan bermungkim disuatu tempat bernama Kute Aji Mentare, kemudian Aji Mentare berkembang dan menjadi suatu kerajaan dengan Rajanya RATU SEKANDAR ALAM atau Ratu Pebuyutan. Makam-makam dari keempat persanak atau jenis mahluk itu berada disuatu tempat di pinggiran Sungai Pendulangan anak dari Sungai Rambang, daerah itu disebut dengan Puyang Penulangan. Ratu Sekandar Alam atau Ratu Pebuyutan mempunyai seorang puteri Renik Gigi ada pula yang menyebutnya dengan nama Puyang Gadis. Oleh karena tidak mempunyai anak jantan untuk dijadikan sebagai putera mahkota sebagai pewaris dari Kerajaan Aji Mentare nantinya, Baginda mengadakan upacara pemujaan kepada Dewa di kayangan tinggi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki secara sepontanitas, kita makluk pada zaman itu merupakan zaman serba sakti. Jadi semua hajat bisa terkabul dengan seketika dan dalam waktu sekejap saja. Pemujaan itu diadakan pada petang malam empat belas. Upacara itu disebut Didundang, maka dengan serta merta jatuhlah dari kayangan tinggi dan jatuh tepat di halaman istana dan balai rung serta masuk kedalam Bumi (terbenam kedalam tanah, benda itu berupa sebuah bungkusan (kuntum) yang tertutup rapat didalamnya berisi seorang bayi laki-laki yang sudah pandai berbicara. Tempat jatuhnya kuntum (bungkusan) itu disebut tanah Gumai Suatu (Gumai Lumpur) sampai sekarang tempat itu bila di pijak dapat amblas dan kita bisa terperosok kedalam bumi. Oleh penduduk setempat dan sekitar daerah itu dinamai DANAU SEGATAL. Pada saat sang puteri beranjak remaja, ia berniat mendapat suami yang istimewa seorang bujang yang tidak berpusat. Konon bujang yang tidak berpusat itu dialam jagat raya ini hanya ada 2 orang yaitu ; (a) Anak diwe di putting bumi namenye Seniang Nyage; (b) Anak Diwe ditangkai langit ialah kakaknya sendiri yang bernama RADEN SIMBANG GUMAI (anak hasil dari dundangan) yang datang temendangan atau anak laki-laki pintaan yang menjelma sekejap tanpa dilahirkan seorang ibu. Justeru itulah sang Puteri Renik Gigi bersuamikan anak Diwe di Putting Bumi SENIANG NAGE RAYE untuk sementara waktu suami isteri itu bermungkim dan menetap di Kute Aji Mentare. Puteri Renik Gigi dan suaminya Seniang Nage Raye, sampailah pada batas waktu yang disepakati pada waktu pernikahan dan harus meninggalkan Kute Aji Mentare untuk kembali ke Kerajaan Ayahnya di Putting Bumi dan kelaknya akan mewarisi sebagai Raja untuk menggantikan Ayahnya. Pada suatu hari Seniang Nage Raye mengemukakan hasratnya kepada mertuanya Ratu Sekandar Alam untuk minta diri dan ingin mengajak isterinya Puteri Renik Gigi pulang ke kerajaan ayahnya di Puting Bumi, serta ingin menetap dan bermungkim di sana untuk selamanya. Ajakan suaminya itu selalu ditampik dan ditolak oleh isterinya dengan bermacam-macam alasan, serta bersikeras dan enggan menuruti kehendak suaminya, apalagi kalau mau menetap untuk selamanya dikerajaan ayahnya di Puting Bumi. Berulang kali ajakan itu disampaikan namun sang puteri isterinya tetap menolak, akhirnya sampailah pada suatu klimak dan batas kesabarannya sudah habis. Oleh sebab itu timbulah suatu perselisihan antara pihak Puteri Renik Gigi dengan pihak suaminya SENIANG NAGE RAYE dengan puncaknya akan mengadu kesaktian dan kemukjizatan dari masing-masing pihak. Pihak kerajaan Aji Mentare mengadakan perasanan (musyawarah besar) dengan kesimpulan menjelmakan pahlawan ciptaan, yang masing masing mempunyai kesaktian di keempat penjuru istana. Sejak terjadi perasanan (musyawarah) itu Kute Aji Mentare bisa juga disebut dengan nama Kute Perasan. Untuk daerah Endikat terkenal dengan nama Timpe Rasan. Pihak suami sang puteri (Seniang Nage Raye) bertindak dan menunjukkan kesaktiannya dengan memasang atau menancapkan 4 batang lidi nyiur hijau dihalaman balai rung, di depan istana, serta dengan ancaman; Apabila pihak kerajaan Aji Mentare tidak menyerahkan sang puteri, atau menyetujui serta merestui atas keinginan dari pihak suaminya, maka akibatnya Kute Aji Mentare akan medapat bencana dan akan dimusnakan dengan genangan air Bah serta akan menjadi lautan (ditenggelamkan). Keempat serampu sebagai pahlawan dari pada kerajaan Aji Mentare menjadi berang dan langsung mencabut lidi-lidi yang dipasang atau ditancapkan dihalaman belakang balai rung dan istana. Secara berganti-ganti, mulai dari serampu pertama hingga kepada serampu yang ke empat. Lidi yang dicabut, begitu tercabut menyemburlah air sebesar batang nyiur mencuat kepermukaan dari lubang lidi itu serta menjulang ke udara melebihi ketinggian pohon nyiur. Air yang menyembur itu dapat dimatikan oleh kesaktian serampu pertama dengan cara menghentamkan kakinya paada lubang lidi. Seterusnya lidi kedua, lidi ketiga, juga dapat dimatikan oleh serampu kedua dan serampu ketiga. Untuk lidi yang terkhir atau lidi yang keempat, serampu ke empat melakukan pula menghentamkan kakinya kelobang lidi yang menyemburkan air, namu bukan airnya berhenti menyembur kepermukaan, dengan serta merta bumi menjadi amblas (selebung) kebawah tanah, air keluar tidak terbendung lagi, sehingga air menggenangi halaman balai rung, istana dan akhirnya segenap Kute Aji Mentare tergenang air, bak laut lepas dan musnahlah Kute Aji Mentare serta seluruh isinya ditelan air bah yang dahsyat. Konon ceritanya puteri Renik Gigi hilang bersama suaminya ditelan air bah serta seisi kerajaan dan penghuninya. Keempat serampu terbang melayang tanpa diketahui arahnya, namun Raden Simbang Gumai menurut ceritanya masuk kesebuah alat yang dinamai GENDANG BAWAK TUME. Gendang itu terbuat dari baloknya batang rerumputan pulut-pulut namanya, kulitnya (bawaknya) dari kulit binatang tume (sebangsa kutu kepala atau kutu rambut). Gendang itu terapung-apung di air tanpa arah tujuan, akhirnya terdampar didaratan, Kute Aji Belakang Barat namanya, tempat itu bernama Kuripan berada di derah Muara Dua Kisam, Masuk Wilayah Kabupaten OKU Selatan. Di dusun Kuripan terdapat pula makam dari Raden Simbang Gumai (Suke Milung Sakti). Mengenai Puteri Renik Gigi akhirnya diketahui mempunyai keturunan bernama NAGE BERINSANG SAKTI, yang tidak diketahui cerita selanjutnya dan dimana pula tempat makamnya. Aji Belakang Barat adalah suatu kerajaan hulu sungai dengan rajanya pada saat itu mempunyai serorang puteri yang cantik jelita bernama RAPAK IJAH PUTERI BUNGSU. 6. Adapun Raden Simbang Gumai setelah terdapar itu keluarlah sukmenye dari dalam gendang bawak tume dan menjelma seorang pemuda yang tampan nan Yatim Piatu tiada tau asal muasalnya hidup mengembara dan me-ilung ilung hidup disekitar Kute Aji Belakang Barat, dapat makanan menanti belas kasihan penduduk, siang malam dipinggiran Kute. Atas kejadian itu akhirnya dikenal dengan nama SUKE MILUNG SAKTI. Raja Aji Belakang Barat pada saat itu sedang dalam gundah gulana ditimpa musibah karena Tuan Puteri Rapak Ijah Puteri Bungsu sedang dalam sakit keras. Tabib dan dukun dukun sudah berusaha mengobati, namun belum ada yang berhasil. Kesegenap penjuru negeri diumumkan dan disebar luaskan bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit Tuan Puteri, maka orang itu akan dijadikan sebagai menantu Raja dan sebagai jodoh Tuan Puteri. Pada sutu hari ada seorang penduduk yang melapor kepada Raja bahwa ada seorang pemuda yang me-ilung ilung di pinggir Kute, lalu baginda memerintahkan pengawal untuk menemui pemuda itu dan memerintahkan segera menghadap ke istana, kalau kalau pemuda itu punya kesaktian dapat mengobati penyakit Tuan Puteri. Pemuda me ilung ilung menghadap raja setelah itu di bawa ke peraduan Tuan Puteri untuk melihat penyakit apa gerangan yang diderita oleh Tuan Puteri. Begitu pemuda itu datang dan berpandangan dengan Tuan Puteri serta merta Tuan Puteri menjadi sadar dan langsung bisa pula berbicara kepada pemuda yang berada dihadapannya. Pembicaraan Tuan Puteri dengan lantang dan jelas serta tegas meminta diambilkan obatnya, yaitu anak BURUNG TAKUH (sejenis pelatuk besar) yang sarangnya dan anaknya ada pada lubang pohon Meranti besar yang sudah lapuk dan buruk, serta bergoyang goyang bila ditiup angin, seakan akan mau roboh karena buruk dan rapuh. Pemuda Suke Milung Sakti alias Raden Simbang Gumai setelah mendengar pembicaraan Tuan Puteri langsung menghadap Raja, mengemukankan bahwa ia akan mencoba berusaha untuk memenuhi permintaan Tuan Puteri mengambil anak burung takuh; yang sebelumnya telah berpuluh puluh bahkan ratusan pemuda anak anak dari orang kenamaan di daerah itu, namun semuanya menemui kegagalan. Karena keadaan dan situasi pohon sangat memperhatinkan serta tidak ada yang berani memanjatnya, sebab pohon itu sangat rapuh lagi pula batangnya besar dan tinggi dan saratnya anak burung itu harus dalam keadaan hidup. Raja menyetujui permohonan Suke Milung dan berjanji apabila berhasil, serta Tuan Puteri sembuh sebagai sedia kala, ia Raden Simbang Gumai (Suke Milung Sakti) akan dijodohkan dengan Tuan Puteri, dan diambil sebagai menantu Raja. Atas kesaktian Suke Milung Sakti, diambilnya segumpal tanah liat, lalu tanah itu dilontarkan dan tepat mengenai mulut lubang sarang burung takuh serta tepat menutup lubangnya. Kemudian Suke Milung Sakti membaca beberapa mantera, pada saat itu juga pohon itu perlahan lahan roboh dan tumbang sampailah ke bumi dengan tiada cacat celahnya. Karena pohon itu sudah tergeletak ditanah, maka dengan mudah tanah liat penutup lubang sarang burung Takuh untuk dibawa pulang dan diserahkan kepada Baginda Raja. Anak burung segera dimasak dan disuruh santap oleh Tuan Puteri. Begitu Tuan Puteri selesai menyantap masakan anak burung Takuh, seketika itu Juga Tuan Puteri sembuh dan segar bugar sebagaimana sedia kala. Dengan tiada kekurangan suatu apapun, serta berbicara bahwa ingin bertemu dengan pemuda Suke Milung Sakti alias Raden Simbang Gumai. Raja sangat gembira dan bersuka cita, langsung memanggil datuk menteri serta seluruh pejabat istana, mengadakan musyawarah besar, untuk menetapkan hari baik bulan baik tahun bertuah, mengenai hari perkawinan Puteri Rapak Ijah Puteri Bungsu dengan pemuda Suke Milung Sakti alias Raden Simbang Gumai. Raja mengumumkan dan memerintahkan kepada Datuk Menteri, Hulu balang dan punggawa kerajaan dan segenap rakyat umum agar hadir ke balai rung di istana turut merayakan upacara perkawinan Tuan Puteri dengan Suke Milung Sakti. Undangan disebarkan ke tujuh Kute di ulu dan tujuh Kute di hilir, pesta perayaan diadakan selama tujuh hari siang malam. Demikian sejak itu pula Raden Simbang Gumai alias Suke Milung Sakti di nobatkan sebagai menantu Raja dan diangkat sebagai seorang putera mahkota kemudian berhak pula menggantikan mertuanya sebagai raja pada kerajaan Aji Belakang Barat. Pada suatu hari Sang Puteri sedang mengidam ada suatu kepinginan makan asam asaman dan minta dicarikan buah kemang yang sedang numpak atau takil takilan. Untuk daerah Aji Belakang Barat sulit dicari pohon kemang yang sedang berbuah, kecuali pohon kemang disekitar Muara Sungai Rambang, tepatnya disekitar bekas kerajaan yang sudah lenyap, yaitu bekas kerajaan Kute Aji Mentare di Gumai suatu Bumi Rambang. Permintaan sang puteri dapat dipenuhi oleh sang suami dapat buah kemang yang di idam-idamkan itu. Buah kemang itu ditakil takil (disayat) menjadi 9 takil (sayatan) lalu dimakan dan habis semua. Atas kehendak Yang Maha Kuasa dari kehamilan tu lahirlah bayi laki-laki yang pertama dengan selamat dan segar bugar. Adapun Raden Simbang Gumai (Suke Milung Sakti) mempunyai keturunan 9 orang yaitu ; (1) Puyang PANJANG cikal bakal di bumi rambang atau Gumai Lumpur (Gumai Suatu); (2) REMANJANG SAKTI mengembara dan menetap di Endikat Cikal bakal 3 penjuru Gumai yaitu; Gumai Lembak, Gumai Talang dan Gumai Ulu. (3) Puyang UNTU; (4) Puyang REMUNTU; (5) Puyang IMPAK; (6) Puyang IMPARAN; (7) Puyang INDANG; (8) Puyang REMINDANG dan (9) INTAN PERMATE beliau merupakan cikal bakal dari suku komering dan suku lampung. 7. Puyang Panjang yang balik ke bumi Rambang yang menapak atau menusuk / bermungkim di bumi Rambang. Puyang Panjang dan isterinya berhasrat dan ingin menetap di tanah leluhur ayahnya di bumi Rambang / Gumai Suatu, namun dimana letaknya Bumi Rambang tidak diketahui tempatnya. Setelah pamitan dengan ayahnya Raden Simbang Gumai, berangkatlah Puyang Panjang dan Isterinya di ikuti adiknya Remanjang Sakti menyusuri hutan belantara, rimba raya, lembah dan sungai untuk mencari dimana nian Bumi Rambang itu. Dengan perbekalan secukupnya selama dalam perjalanan. Adiknya Remanjang Sakti selalui tertinggal dalam perjalanan, hanya mengikuti latih pelepai bekas yang dilalui oleh puyang panjang dan isterinya. Selama dalam perjalanan itu tibalah sa’atnya isteri dari Puyang Panjang untuk melahirkan, maka lahirlah seorang bayi laki-laki diberi nama MARJUDAN yang merupakan seorang anak tunggal. Perjalanan mencari Bumi Rambang itu, memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga pada suatu hari disuatu tempat pinggiran Sungai Rambang. Ditempat itu dibuatlah pondok bergalang batang beratapkan serdang lembaran sebagai tempat bermalam dan beristirahat melepas lelah sebelum sampai ke tujuan Bumi Rambang. Pada saat isterinya mencuci beras di sungai Rambang, masuklah seekor ikan LAMPAM kedalam bakul beras, ikan di tangkap dan ditunjukkan kepada suaminya Puyang Panjang, justeru itu Puyang Panjang bru ingat akan pesan Ayahnya bahwa ciri-ciri Bumi Rambang adalah airnya jernih tidak deras, ikannya banyak, bila mencuci beras ikannya masuk kedalam bakul beras serta mudah ditangkap; bila dipanggang minyaknya menetes ke bara api dan mengeluarkan bau khusus yang menerbitkan napsu makan. Puyang Panjang memanggil adiknya Remanjang Sakti dan memberitahu bahwa Bumi Rambang yang dicari sudah diketemukan. Kedua Kakak beradik isterinya serta anaknya Marjudan sangat bergembira, karena telah sampai pada Bumi Rambang leluhur dari Ayahnya. Puyang Panjang memutuskan akan menetap dan bermungkim di tempat ini, tempat beliau menapak / menyusuk itu namanya Tanjung Suang yang kemudian menjadi sebuah dusun dan dinamai Kajang Are. Dusun Kajang Are yang dulu kini bergeser ketimur sedikit, sekarang bernama desa Kayu Ara masuk wilayah kecamatan Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Ditengah desa Kayu Ara terdapat makam RADEN SIMBANG GUMAI (SUKE MILUNG SAKTI). Setelah menetap di Kajang Are, serta diketahui bahwa makam makam dari leluhur beliau berada dihilir Daerah Sungai Penulangan anak dari Sungai Rambang, yaitu makam dari ; (7.1) Ratu Sekandar Alam (Ratu Kebuyutan) dan Suaminya Siak Ali Bandarudin. (7.2) Makam 4 persanak yaitu ; Tuan Raje Itah; Tuan Raje Itam; Tuan Raje Nyawe; TuanKetitahan. (7.3) Makam asli Raden Simbang Gumai. (7.4) Raden Sinom ( P. Muara Rambang) (7.5) Raden Alit dan Raden Cili Makam-makam tersebut ada pada rimba disebelah hulu, itulah lokasi Kute Aji Mentare Rimba sebelah hilir arah jalan Pertamina. (7.6) Makam dari ; Puteri Renik Gigi; Puyang Panjang dan Puyang Remanjang Sakti. (Sudah dipugar oleh Keluarga RUSMAN dari Gumai Talang di bantu keluarga M. ROZIE SOIB desa Kayu Ara pada tahun 2009). 8. Puyang Marjudan adalah cikal bakal dari penduduk desa Kayu Arad an sekitarnya. Beliau ini mempunyai keturunan 9 orang, 7 lelaki dan 2 perempuan. 8.1. Sehadam 8.2. Nengkuse Raje Geni 8.3. Sangarap 8.4. Lembu Jagat 8.5. Rie Wari 8.6. Bajau Surau 8.7. Dayang Jumek 8.8. Dayang Kidok dan 8.9. Rie Mardi gelar Jage Lurah. 9. Puyang Sehadam adalah merupakan suatu kerajaan kecil (Raja Uluan) berdiri sendiri, terjalin persahabatan dengan kesultanan Palembang Darus Salam. Karena sesuatu, pada suatu waktu antara Raja Sehadam dengan kesultanan Palembang Darus Salam timbul selisih paham dengan berbuntut terjadi perang antar daerah. Sebagai bukti sejarah di Kota Palembang masih terdapat seperti makam Tuan Dikapar di 10 ulu, Sungai Tawar dan Sungai Keramasan. Perang itu disebut perang para Perwali. Adapun di pihak Raja Sehadam sebagai Duta keliling pengumpul para perwali adalah LEMBU JAGAT, sebagai Imam Perang SAIDINA AKSA (Junjung Tangai) Pelias peluru Tuan DIKAPAR, ahli peluru Tuan SULUTAN. Perang itu adalah perang kesaktian, masing-masing pahlawan mempunyai kesaktian yang berbeda beda, sejak perang Palembang itu pula diareal Keramat Raden Sinom (P.Muara Rambang) terdapat segerombolan Kera. Menurut Cerita kera-kera itu jelmaan dari rakyat uluan yang bertugas mengantarkan perbekalan ke front Kerajaan Sahadam di Muara Keramasan di Palembang, Rakyat tidak berani mengantar perbekalan karena mendengar suara dari letusan meriam dan senapan di Kota Palembang. Kebiasaan yang terjadi apabila ada Kera di Muara Rambang, Kera-kera di Bukit Seguntang tidak tampak demikian sebaliknya. Selanjutnya akibat dari perang itu, hubungan antara Raja Sehadam dengan Kesultanan Palembang Darus Salam menjadi renggang, maka terjalinlah hubungan Raja Sehadam dengan Kerajaan Majapahit di tanah jawa (Serandil Banyumas). Buktinya ada kesamaan ikan-ikan di kali serayu (Cilacap jawa tengah) dengan ikan-ikan yang ada di Sungai Rambang. Keturunan selanjutnya hanya di catat anak laki-laki paling tua sebagai penegak Jurai. 10. Puyang Betare anak Puyang Raje 11. Puyang Raje anaknya Puyang Singe Raje 12. Puyang Singe anaknya Puyang Palime Raje 13. Puyang Panglime Raje anaknya Puyang Kemas Tande Wali 14. P.Kemas Tande Wali anaknya Puyang Tande Guru 15. P. Tande Guru anaknya; 15.1. Nur Muhammad gelar Puyang Jantan 15.2. Karsidin (Tuan Kayu Are) 16. Nur Muhammad anaknya Sariman (Puyang Dukun) 17. Sariman anaknya ; 17.1. Tande Kawin dengan Sibundar anak dari Depati Kenawen Tamb. Rambang. 17.2. Saleh 17.3. Reduli 18. Tande anaknya ; 18.1. Remintan (Tamb. Rambang) 18.2. M. Amin (Kerio Panjang Kumis) 18.3. Resindam (TG Miring) 19. M. Amin anaknya ; 19.1. Masjudah 19.2. Masni’ 19.3. Abunawar (Tawek) 19.4. Zainab (TG Miring) 19.5. SOIB. 20. Soib anaknya ; 20.1. M. ROZIE SOIB 20.2. IMRON L 20.3. AKHMAD FIRDAUS 21. M. Rozie Soib anaknya; 21.1. Dra. Tasmania Puspita, M.Si 21.2. Ir. M. Latuharhari 21.3. M. Helmansyah 21.4. M. Helmi, S.Pd. 21.5. Tati Pramana, S. Pd. 21.6. Martiana 21.7. Akhirul Yansyah, ST 21.8. Ernalia, SE, S.Pd. 22. M. Helmansyah anaknya; 22.1. Mike Rosaline 22.2. Hersa Gumai 23. Hersa Gumai ……………… Demikian selayang pandang Silsilah Turunan Tumang Nantigiri (Gumai Suatu) Suku Rambang. @mail, gumay.52@gmail.com

Rabu, 25 Mei 2011

WISATA TAPAK PUYANG KE DUA (WTP-2)

CATATAN : WISATA TAPAK PUYANG KE DUA (WTP-2)
18-21 MEI 2011.

Perjalanan “Wisata” tapak puyang adalah perpaduan antara kegiatan rekreasi dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah (makam; tapak; benda pusaka dll) yang berhubungan dengan “Puyang” atau leluhur berdasarkan catatan Silsilah Keturunan Gumay. Manfa’at dari perjalanan WTP ini sangat banyak terutama dalam rangka meningkatkan silaturahmi anak cucu keturunan Gumay Sembilan batang aghi, meningkatkan kecintaan terhadap peninggalan sejarah leluhur, dapat melihat dari dekat lokasi tempat bermungkimnye leluhur pada jaman lampau. Sasaran WTP-2 pertama Makam/tapak Puyang PANJANG di Pandan Enim Kabupaten Muara Enim; kedua Makam/Tapak Puyang Simbang Gumay yang bergelar Suke Milung Sakti bertempat di KURIPAN muara dua Kabupaten Ogan Ulu Propinsi Sumatera Selatan.
TIM WTP – 2 ;
1. Drs. Yamari Gumay; koordinator
2. Ismed; anggota
3. Heri Tasroni; anggota (Tanjung Enim)
4. Gumanti ; pemuka adat desa Pandan Enim
5. Lahmudin; pemuka adat desa Pandan Enim
6. Meri Suryadi, SH, MH; anggota DPRD Kab Ogan Ulu
7. Adnan Wiliansyah, S.Pd; Batu Raja Kab OKU
8. Hamid bin Anwar; pemuka adat desa Kuripan Kab Ogan Ulu
WAKTU : WTP-2 dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 18 sampai dengan 21 Mei 2011
Perjalanan HARI PERTAMA ; berangkat dari Bengkulu menuju Desa Pandan Enim Kabupaten Muara Enim dengan menempuh jarak +/- 392 km; kondisi jalan rata2 baik dengan jalan berbelok-belok (banyak tikungan tajam); dalam perjalan ini WTP-2 dapat mencatat :
1. Di daerah KIKIM ILIR sedang musim durian, Alhamdulillah TIM WTP-2 dapat mencicipi buah tahunan yang berbau khas ini;
2. Adanya perubahan yang mendasar, dahulu terhampar padang Alang-alang Alhamdulillah sekarang telah berubah menjadi kebun Sawit terhampar luas;
3. TIM-WTP merasakan adanya perubahan di ruas jalan Lahat – Muara Enim, jalan sedikit terganggu oleh banyaknya truk angkutan batu bara;
Hari pertama ini WTP-2 bermalam di Tanjung Enim. Dilanjutkan dengan acara ;
a. Kunjungan Silaturahmi.
Kunjungan Silaturahmi ke rumah Sdr. GUMANTI pemuka adat / penanggung jawab benda-benda pusaka peninggalan Puyang PANJANG di Pandan Enim; beliau di damping oleh Saudara Lahmudin. Dalam silaturahmi ini WTP-2 mendapat informasi ; 1). Bahwa benar Makam atau tapak Puyang PANJANG ada di Desa Pandan Enim; 2). Letak rumah sebelumnya di pinggir sungai Enim karena banjir di pindah ke atas. 1982 (ada riwayat tersendiri tentang banjir 1982); 3) Peninggalan pusaka; 4). Letak makam / tapak.
b. Kunjungan ke lokasi makam / tapak
Puyang Panjang adalah anak SIMBANG GUMAY / SUKE MILUNG SAKTI, Putra tertua dari Sembilan (9) bersaudara; berdasarkan informasi yang WTP-2 peroleh bahwa makam atau tapak beliau benar berada di desa Pandan Enim; letak makam/tapak lebih kurang 100 meter dari jalan raya Muara Enim – Batu Raja; tim WTP-2 secara bersama-sama memanjatkan do’a kepada Allah SWT (……..) tanda rasa syukur.

Pada HARI KEDUA Tim WTP-2 melanjutkan perjalanan menuju desa KURIPAN MUARA DUA Kabupaten Ogan Ulu; jarak antara Tanjung Enim ke lokasi lebih kurang 158 km; Tim WTP-2 didampingi oleh Adnan Wiliansyah, S.Pd dari Batu Raja dan Meri Suryandi, SH.MH dari Muara Dua Kabupaten Ogan Ulu serta Hamid bin Anwar; pemuka adat desa Kuripan Kab Ogan Ulu; TUJUAN : melihat dari dekat tempat bermungkim masyarakat keturunan Gumay yang ada di Kute Aji Belakang Barat atau yang di kenal sekarang Desa KURIPAN Muara Dua Kabupaten Ogan Ulu; Kute Aji Belakang Barat/Kuripan berada di Pinggir Sungai SELABUNG bagian hulu mengarah ke DANAU RANAU sedangkan bagian hilir mengarah ke Sungai Ogan atau Ogan Ilir; Mata pencaharian : sama dengan masyarakat keturunan Gumay lainnya yaitu bercocok tanam, beternak dan lain-lain; Bahasa yang di gunakan sangat unik yaitu gabungan dua belas (12) bahasa, (ogan, enim, kombering, kisam, padang, banten,( …….); berdasarkan keterangan dari Hamid bin Anwar; pemuka adat desa Kuripan Kab Ogan Ulu dapat diperoleh informasi sebagai berikut ;
1) Benar bahwa di Kuripan pernah bermungkim “PUYANG SEKILUNG SAKTI” atau Versi WTP-2 “Puyang Simbang Gumay bejuluk Puyang Suke Milung Sakti” dan disini pula Beliau di makamkan;
2) Puyang Suke Milung Sakti tiga (3) bersaudara yakni Putri Renik Dabung (Renik gigi) dan Puteri Suri Dendam;
3) Tiga bersaudara ini dua (2) menetap di Kuripan dan satu (1) menetap selabung Ogan Ilir;
4) Letak makam lebih kurang 500 meter ke sebelah atas desa Kuripan.


Tim WTP-2 melanjutkan perjalanan silaturahmi dengan Sanak keluarga di Kota Muara Dua Ogan Ulu, Kabupaten yang berpenduduk 357.000 jiwa ini manyoritas menggunakan bahasa “ e “ (bahasa lahat). Selanjutnya Tim bermalam (istirahat) di kota BATU RAJA Kabupaten Ogan Komering Ulu;

Perjalanan HARI KETIGA ; Sesuai jadual bahwa hari ke tiga (3) WTP-2 akan bergabung dengan rombongan PB IMK Gumay yang di pimpin oleh Ketua Umum Syafrie Gumay, SE dan Setiawan Gumay Senja (Sekjen) di kota LAHAT dengan agenda mengikuti Pleno HUT Kota Lahat dan dilanjutkan audiensi dengan Camat Gumay Talang, Pulau Pinang dan Gumay Ulu serta para Kepala Desa; Pleno HUT dan audiensi dapat berjalan dengan baik;
Selanjutnya rombongan PB IMK dan WTP-2 melakukan kunjungan silaturahmi dengan keluarga Al. Rumsyah Amasin di Endikat ilir, Rombongan disambut dengan hangat oleh keluarga yang diwakili oleh Add. YULIA.

Demikian, sekilas catatan WTP-2 semoga bermanfa’at, terima kasih atas semua bantuan adik sanak dan mohon ma’af jika ada kekeliruan.

Senin, 09 Mei 2011

CATATAN WTP-1

CATATAN WTP-1. : ANAK CUCU GUMAY DI KUTE AJI MENTARE RAMBANG.

Sungguh di luar dugaan setelah melihat dari dekat anak cucung Gumay yang menetap di Kute Aji Mentare yang sekarang berubah nama menjadi Desa KAYU ARA Rambang Kuang Kab Ogan Ilir.

Di Kute Aji Mentare merupakan Pusat Pemerintahan semasa RATU PEBUYUTAN (bahasa local) RATU KEBUYUTAN (bahasa Silsilah Gumay). Ratu Kebuyutan adalah generasi ke X (sepuluh) Puyang GUMAY,

Anak Ratu Kebuyutan ade 2 ;

anak pertame : Puteri Renik Gigi (bhs lokal) dan Puteri Renik Dabung (bhs Silsilah) Puteri Renik Dabung mempunyai seorang anak yaitu : NAGE BERINSAN SAKTI.

Anak ke due : RADEN SIMBANG GUMAY . Raden Simbang Gumay adalah anak “DUNDANGAN “ (anak Pintak-an kepada Tuhan) di TANGKAI LANGIT; Ratu Kebuyutan tidak mempunyai anak laki-laki sehingga beliau memohon kepada sang pencipta “seorang anak laki-laki” yang di beri nama Raden Simbang Gumay inilah yang di sebut “ANAK DALAM KUNTUM/LINGGUGH. Semasa merantau ke KURIPAN RANAU beliau di beri gelar SUKE MILUNG.

Raden Simbang Gumay/Suke Milung mempunyai due tapak dan satu makam:

Tapak Pertama di Kute Aji Mentare dan Tapak ke dua di Kuripan Ranau. Sedangkan makam tempatnya di : SELEBUNG/TANAH BERAYUN atau Kute Perasan (bhs lokal) dan Timpe Rasan (bhs Silsilah) daerah ini juga sering disebut : pelimbangan.

Raden Simbang Gumay/Suke Milung mempunyai 9 (sembilan) orang anak; teridiri dari : 7 Laki-laki dan 2 perempuan.

Anak Pertama : Puyang Panjang (Kute Aji Mentare) merupakan Saudara tua dari Puyang Remanjang Sakti (Lubuk Sepang); Puyang Panjang adalah asal muasal/Mule Jadi anak Cucung Gumay ye menetap di Kecamatan Rambang, Kecamatan Lubay dan sekitarnya di Kabupaten Ogan Ilir.

Anak cucung PUYANG PANJANG secara turun temurun (Tumang Nantigiri) sekarang sudah keturunan ke XXII. Wanda M. ROZIE SOIB (90 thn) adelah Jurai Tue Dusun Kayu Ara Rambang Kuang Ogan Ilir.





Ade beberapa Cerita Rakyat yang menarik di Kute Aji Mentare antara lain i;

Seniang Nage Raye;

Gendang Bawak Tume;

Buah kemang Takil-takilan;

Nara Sumber Catatan Kecil ini : Wanda M. Rozie Soib pemuke adat/jurai tue Desa Kayu ara; Wanda Sobri Desa Tanjung Kemale. Di sunting oleh : Yamari Gumay. 06/04/2011